STRATEGI PEMBELAJARAN "STRATEGI PENYAMPAIAN DAN PENGELOLAAN"
Kata
Pengantar
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan makalah ini dapat
diselesaikan.
Makalah
ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah PEMBELAJARAN TERPADU. Keberhasilan
dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu
tak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Tuhan Yang Maha Esa
2.
Prof. Dr. Sa’dun Akbar,
M.Pd
3.
Perpustakaan Universitas Negeri
Malang
Penyusun
menyadari bahwa makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu
kritik yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Malang, Agustus 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar………………………………………………………………..1
Daftar
Isi……………………………………………………………………….2
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang……………………………………………………………...3
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………..3
C.
Tujuan………………………………………………………………………3
D.
Manfaat……………………………………………………………………..3
BAB
II PEMBAHASAN
A. Strategi
Penyampaian Pembelajaran………………………………………...4
B. Strategi
Pengelolaan Pembelajaran……………………………………….…8
C. Pengaruh Karakteristik Siswa Dalam Menetapkan Strategi Pengelolaan…..9
D. Tahap Pengelolaan Pembelajaran………………………………………….10
E. Tujuan dan Fungi Pengelolaan
Pembelajaran……………………………...11
F. Faktor yang mempengaruhi pengelolaan pembelajaran……………………11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………………..15
B.
Saran………………………………………………………………………16
Daftar
Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Strategi
Pembelajaran merupakan komponen dalam sistem pembelajaran. Strategi
pembelajaran terkait dengan bagaimana materi disiapkan, metode apa yang terbaik
untuk menyampaikan materi pembelajaran tersebut, dan bagaimana bentuk evaluasi
yang tepat digunakan untuk mendapatkan umpan balik pembelajaran. Namun,
strategi pembelajaran yang menjadi sorotan dekade terakhir adalah bagaimana
guru dapat merancang strategi itu agar para peserta didik dapat menikmati
pembelajaran dengan menyenangkan. Karena otak berpikir hanya mampu berfungsi
secara optimal, jika stimulus dari luar lingkungan (terutama guru) sangat
menyenangkan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah strategi penyampaian pembelajaran itu?
2.
Apakah strategi pengelolaan pembelajaran itu?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui tentang strategi penyampaian
pembelajaran
2.
Untuk mengetahui tentang stretegi pengelolaan
pembelajaran
D.
Manfaat
Agar mengetahui tentang strategi penyampaian
dan pengelolaan pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Strategi
pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan cara
pengorganisasian isi pelajaran, penyampaian pelajaran dan pengelolaan kegiatan
belajar dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang dapat dilakukan guru
untuk mendukung terciptanya efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran diarahkan pada
berbagai komponen yang disebut sistem pembelajaran. Oleh karena itu, strategi
pembelajaran merupakan bagian terpenting dari komponen teknik dan metode dalam
suatu sistem pembelajaran.
Reiguluth
(1983), juga menyatakan konsep yang tidak jauh berbeda, bahwa strategi
pembelajaran merupakan cara pandang dan pola pikir guru dalam mengajar. Dengan
demikian, strategi pembelajaran meliputi aspek yang lebih luas daripada metode
pembelajaran.
1.
Strategi Peyampaian Pembelajaran
Strategi penyampaian (delivery strategy)
mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk menampilkan pembelajaran kepada
peserta didik dan sekaligus untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari
peserta didik. Oleh karena fungsinya seperti ini, maka strategi juga disebut
sebagai metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Menurut Degeng
(1989) secara lengkap ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam
mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu sebagai berikut:
a) Media Pembelajaran
Menurut
Martin dan Briggs (1989), media adalah semua sumber yang diperlukan untuk melakukan
komunikasi dengan peserta didik. Media bisa berupa perangkat keras seperti
komputer, televisi, proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat
keras tersebut.
Ada lima cara
untuk mengklasifikasikan media pengajaran untuk keperluan mempreskripsikan
strategi penyampaian, yaitu:
1.
Tingkat kecermatan representasi
Suatu media
yang bisa diletakkan dalam suatu garis kontinum, seperti:benda konkrit, media
pandang dengar, seperti film bersuara;media pandang, seperti gambar atau
diagram; media dengar ,seperti rekaman suara dan simbol-simbol tertulis.
Bruner (1966)
dalam pengembangan teori pengajarannya, mengemukakan bahwa suatau pembelajaran
harus bergerak dari pengalaman langsung ke representasi ikonik (seperti: kata
atau simbol-simbol lain).
2.
Tingkat interaktif yang ditimbulkan
Tingkat
interaksi yang mampu ditimbulkan oleh suatu media juga dapat dibentangkan dalam
suatu kontinum, tetapi titik-titik dalam kontinum ini ditunjukkan oleh jenis
media yang berbeda-beda: computer, guru, buku kerja, buku teks/ rekaman dan
siaran radio/televisi.
.
3.
Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki
Tingkat
kemampuan khusu yang dimiliki oleh suatu media juga dapat dipakai untuk
mempreskripsikan strategi penyampaian. Tiap media dari berbagai media ynag
telah dibicarakan diatas, bak dari kontinum tingkat kecermatan maupun tingkat
interaktifnya, dapat diidentifikasi karakteristik khusu yang dimaksu adalah
kemampuannya dalam menyajikan sesuatu yang tidak dapat disajikan oleh media
lain.
4.
Tingkat motivasional
yang mampu ditimbulkan
Tingkat
motivasional yang dimiliki suatu media juga penting, artinya untuk keperluan
mempreskripsikan trategi penyampaian. Namun,perlu dicatat bahwa pengaruh
motivasional ini sering kali amat bervariasi sejalan dengan perbedaan
perseorangan diantara peserta didik.
5.
Tingkat biaya yang diperlukan
Tingkat biaya
yang diperlukan dalam menyiapkan suatu media juga penting untuk
mempreskripsikan strategi peyampaian. Mulai dari perancangan sampai pada
pembuatannya kalau media itu dikembangkan sendiri.
Kemp (1985,
hlm. 139) mengklasifikasi media pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
bentuk belajar-mengajar: kelas besar, kelompok kecil dan belajar sesuai dengan
kecepatan peserta didik secara perseorangan.
b) Interaksi Peserta Didik dengan Media
Bentuk
interaksi antara peserta didik dengan media merupakan komponen penting kedua
untuk mengeskripsikan strategi penyampaian. Komponen inin penting karena uraian
mengenai strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memberi gambaran tentang
pengaruh apa yang ditimbulkan oleh suati media pada kegiatan belajar peserta
didik.
Dalam
proses pembelajaran, media yang digunakan guru harus sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang tekah ditetapkan sehingga mampu merangsang dan menumbuhkan
minat peserta didik dalam belajar. Dengan demikian, akan tumbuh interaksi antara
media pembelajaran dan peserta didik dalam belajar. Adanya interaksi positif antar
media pembelajaran dan peserta didik pada akhirnya akan mampu mempercepat proses
pemahaman siswa terhadap isi pembelajaran. Irulah sebabnya komponen ini lebih
menaruh perhatian pada kajian mengenai kegiatan belajar apa yang dilakukan
peserta didik dan bagaimana peran media untuk merangsang kegiatan-kegiatan
belajar tersebut.
c) Bentuk Belajar Mengajar
Pembelajaran dapat dilakukan dalam berbagai
bentuk maupun cara. Seperti diungkapkan Gagne (1985) bahwa pembelajaran yang
efektif harus dilakukan dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai macam
media pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, guru harus memiliki kiat
maupun seni untuk memadukan antara bentuk pembelajaran dan media yang digunakan
sehingga mampu menciptakan proses pembelajaran yang harmonis.
d) Pengelolaan variable dalam pembelajaran
Menurut Dunkin dan
Biddle, proses pembelajaran berada dalam empat variable interaksi, yaitu;
1. Variable pertanda
(presage variables) berupa pendidik
2. Variable konteks (contex
variables) berupa peserta didik
3. Variable proses (process
variables) berupa proses kegiatan pembelajaran
4. Variable
produk (product variables) berupa perkembangan peserta didik baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka
keempat variabel pembelajaran tersebut harus dikelola dengan baik. Ada 4 macam
pengelolaan pembelajaran yaitu :
a.
Pengelolaan siswa
Siswa dalam
Kedudukan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan “produsen” artinya
siswa sendirilah yang mencari tahu pengetahuan yang dipelajarinya. Siswa dalam
suatu kelas biasanya mermiliki kemampuan yang beragam, karenanya guru perlu
mengatur kapan siswa bekerja perorangan, berpasangan, berkelompok, siswa
dikelompokkan berdasarkan kemampuan sehingga ia dapat berkonsentrasi membantu
yang kurang, dan kapan siswa dikelompokkan secara campuran sebagai kemampuan
sehingga terjadi tutor sebaya.
Belajar merupakan kegiatan
yang bersifat universal dan multi dimensional. Dikatakan universal karena
belajar bisa dilakukan siapapun, kapanpun, dimanapun. Karena itu bisa saja
siswa merasa tidak butuh dengan proses pembelajaran yang terjadi dalam ruangan
terkontrol atau lingkungan terkendali. Waktu belajar bisa saja waktu yang bukan
dikehendaki siswa. Dan untuk itulah guru dapat merekayasa segala sesuatunya.
Guru dapat mengatur siswa berdasarkan situasi yang ada ketika prosses belajar
mengajar berlangsung.
b.
Pengelolaan Guru
Guru adalah orang yang bertugas
membantu murid untuk mendapatkan pengetahuan sehingga ia dapat mengembangkan
potensi yang dimilikinya. Guru harus dapat menempatkan diri dan menciptakan
suasana yang kondusif, karena fungsi guru disekolah sebagai “bapak” kedua yang
bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.
c.
Pengelolaan Pembelajaran
Pengembangan pembelajaran
pendidikan agama islam memerlukan model-model pembelajaran yang sesuai dengan
tuntutan isi dan hasil yang diharapkan.
d.
Pengelolaan Lingkungan
Kelas
Iklim belajar yang
kondusif merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang dapat memberikan
daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebut,
sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus diperhatikan yaitu; ruang belajar,
pengaturan sarana belajar, susunan tempat duduk, penerangan, pemanasan sebelum
masuk ke materi yang akan dipelajari (pembentukan kompetensi), dan bina suasana
dalam pembelajaran.
2.
Strategi Pengelolaan Pembelajaran
Strategi
pengelolaan berkaitan dengan penetapan kapan suatu strategi atau komponen
strategin tepat dipakai dalam situasi pembelajaran (Degeng, 1989). Menurut Reigeluth
dan Merrill (1979) paling tidak ada empat
hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu:
a)
Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran
Mengacu kepada kapan dan berapa kali suatu
strategi pembelajaran atau komponen suatu strategi pengajaran dipakai dalam
suatu situasi pembelajaran.
b) Pembuatan Catatan Kemajuan Belajar
Siswa
Catatan
kemampuan belajar siswa sangat penting bagi guru, karena dapat digunakan untuk
melihat efektifitas dan efisiensi pembelajaran, guru akan dapat menentukan
langkah-langkah selanjutnya, seperti:
1)
Apakah strategi pembelajaran yang digunakan
telah sesuai / belum,
2)
Apakah rendahnya hasil belajar siswa disebabkan
oleh faktor guru atau siswa, dan.
3)
Apakah penjadwalan penggunaan strategi
pelajaran sudah sesuai / belum.
c) Pengelolaan Motivasional
Menurut
Degeng (1998) peranan strategi penyampaian untuk meningkatkan motivasi belajar
jauh lebih nyata dari strategi pengorganisasian. Ini berarti seni dan cara
penjadwalan penggunaan strategi penyampaian dapat memengaruhi motivasi belajar
siswa. Mengingat hal tersebut, seorang guru harus mampu mengembangkan kiat-kiat
khusus dalam melakukuan penjadwalan penggunan strategi penyampaian.
d) Kontrol belajar.
Kontrol
belajar penting sekali untuk memprekrisikan strategi pengelolaan Karena ia berguna
untuk menetapkan agar pengajaran benar benar sesuai dengan karakteristik
perseorangan siswa. strategi pengelolaan yang berurusan dengan kontrol belajar
banyak terkait dengan aspek penjadwalan.
3. Pengaruh
Karakteristik Siswa Dalam Menetapkan Strategi Pengelolaan
Reigluth
(1983) jelas menunjukan variabel kondisional yang paling berpengaruh dalam
menetapkan strategi pengelolaan adalah karakteristik siswa. penampilan komponen
suatu strategi pengorganisasian harus disesuaikan dengan kemampuan awal siswa
dan berapa kali menampilkanya harus disesuaikan dengan kamejuan
belajarnya.umpamanya, penyajian pengetahuan analogis benar diperlakukan pada
saat siswa mengalami kesulitan memahami isi yang dipelajari. makin lambat
kemajuan belajar siswa maka makin banyak pula pengetahuan analogis yang perlu
disajikan.
Karakteristik
siswa juga harus menjadi pertimbangan pokok dalam pengelolaan strategi
penyampaian. media pandang hanya efektif bila digunakan pada siswa siswa yang
memiliki gaya belajar visual, sedangkan media dengar untuk siswa yang memiliki
gaya belajar auditif. umur siswa juga perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan
media pengajaran. media konkret lebih memadai untuk kelas rendah, sedangkan
media yang lebih abstrak untuk kelas tinggi
4. Tahap Pengelolaan
Pembelajaran
Tahap-tahap pengelolaan pembelajaran terdiri dari :
1. Perencanaan, tahap perencanaan
meliputi:
a.
Menetapkan apa yang mau
dilakukan, kapan dan bagaimana cara melakukannya;
b.
Membatasi sasaran dan
menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses
penentuan target;
c.
Mengembangkan
alternatif-alternatif;
d.
Megumpulkan dan
menganalisis informasi;
e.
Mempersiapkan dan
mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan. (Abu Ahmadi-Joko Tri
Prasetya: 32)
2. Pengorganisasian, tahap
pengorganisasian meliputi:
a.
Menyediakan fasilitas,
perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk melaksanakan
rencana-rencana melalui proses penetapan kerja;
b.
Pengelompokan komponen
kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur;
c.
Membentuk struktur
wewenang dan mekanisme koordinasi;
d.
Memutuskan dan menetapkan
metode dan prosedur;
e.
Memilih, mengadakan
pelatihan dan pendidikan tenaga kerja serta mencari sumber-sumber lain yang
diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
3. Pengarahan, tahap
pengarahan meliputi:
a.
Menyusun kerangka waktu
dan biaya secara terperinci;
b.
Memprakarsai dan
menampilkan kepemimpinan dalam melaksanakan rencana dan pengambilan keputusan;
c.
Mengeluarkan
instruksi–instruksi yang spesifik;
d.
Membimbing, memotivasi
dan melakukan supervisi.
4. Pengawasan, tahap pengawasan meliputi:
a.
Mengevaluasi
pelaksanaan kegiatan yang mengacu pada rencana;
b.
Melaporkan
penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun
standar-standar dan saran-saran;
c.
Menilai pekerjaan dan
melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan.
5. Tujuan dan Fungsi
Pengelolaan Pembelajaran
Tujuan pengelolaan pembelajaran adalah untuk menciptakan
proses belajar mengajar yang dengan mudah direncanakan, diorganisasikan,
dilaksanakan dan dikendalikan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai ecara efektif dan efisien.
Fungsi pengelolaan pembelajaran yaitu :
a.
Merencanakan tujuan
belajar
b.
Mengorganisasikan berbagai
sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.
c.
Memimpin, yang meliputi
memotivasi, mendorong, dan menstimulasi siswa.
d.
Mengawasi segala sesuatu,
apa sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau belum dalam rangka pencapaian
tujuan.
F. Faktor yang mempengaruhi
pengelolaan pembelajaran
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengelolaan pembelajaran
yaitu :
a. Kurikulum
Kurikulum kaitannya dengan pengelolaan pembelajaran
haruslah di rancang sebagai jumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggung
jawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan
secara berencana dan terarah serta terorganisir, karena kegiatan pembelajaran
bukan sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran atau
pengetahuan yang bersifat intelektualistik, akan tetapi juga memperhatikan
aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial
maupun sebagai makhluk yang bermoral.
b. Gedung
dan Sarana Kelas / Sekolah
Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah
sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasinya
yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang dipergunakan. Akan tetapi karena
kurikulum selalu dapat beruabh. Sedang ruangan atau gedung bersifat permanen,
maka diperlukan kreativitas dalam mengatur pendayagunaan ruang / gedung yang
bersedia berdasarkan kurikulum yang dipergunakan. Dalam konteks ini kepandaian
guru dalam pengelolaan kelas sangat dibutuhkan.
c. Guru
Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan
dan pengajaran yang bertanggung jawab dalam membantu anak dalam mencapai
kedewasaan masing-masing. Guru dalam pengertian tersebut bukan sekedar berdiri
didepan kelas untuk menyampaikan materi atau pengetahuan tertentu, akan tetapi
dalam keanggotaan masyarakat yang harus aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam
mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai
orang dewasa. Guru juga harus bisa juga menciptakan suasana dalam kelas agar
terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi sesuai untuk belajar
dengan baik dan sungguh-sungguh. Berdasarkan uraian-uraian diatas jelas bahwa
jabatan guru sebagai suatu profesi tidak saja mulia, karena berhubungan
langsung dengan masalah pendewasaan anak-anak, akan tetapi juga merupakan tugas
yang cukup berat. Tugas yang mulia dan hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang
yang memiliki kecintaan terhadap pekerjaan mendidik.
d. Murid
Murid sebagai unsur
kelas memiliki perasaan kebersamaan, merupakan kondisi yang sangat penting
artinya bagi terciptanya kelas yang dinamis. Oleh karena, setiap murid harus
memiliki perasaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam
kegiatan kelas. Perasaan inilah yang akan menumbuhkan rasa tanggung jawab
terhadap kelasnya.
Sikap ini akan tumbuh dengan baik apabila dilakukan tindakan-tindakan
pengelolaan kelas sebagai berikut :
1)
Setiap murid dilibatkan
dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kelas, guru hanya sekedar
memberi petunjuk dan bimbingan agar program atau kegiatannya sejalan dengan
kurikulum.
2)
Murid diberi kesempatan dalam
pembagian tugas-tugas untuk kepentingan kelas.
3)
Bila guru atau wali kelas
berhalangan, bagi dan serahkanlah kepercayaan berupa tanggung jawab mengatur
rumah tangga dan disiplin kealas diantar murid.
4)
Motivasi agar setiap murid
selalu bersedia mengatur kelasnya melalui kegiatan rutin, misalnya membersihkan
kelas, papan tulis dan lain-lain.
5)
Kembangkanlah kesediaan
bekerjasama dalam setiap kegiatan.
6)
Guru bersama murid
menyusun tata tertib dan disiplin kelas serta membentuk pengurus kelas yang
bekerja selama 1 tahun ajaran.
7)
Mendorong murid secara
terus menerus agar ikut memikirkan kegiatan kelas dan berani mengusulkannya
untuk dilaksanakan bersama didalam atau diluar kelas.
e. Diamika kelas
Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus
dipergunakan oleh setiap wali atau guru kelas untuk kepentingan murid dalam
proses kependidikannya. Dinamika kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas yang
diliputi dorongan untuk aktif secara terarah yang dikembangkan melalui
kretifitas dan inisiatif murid sebagai suatu kelompok, untuk itu setiap wali
atau guru kelas harus berusaha menyalurkan berbagai saran, pendapat, gagasan,
keterampilan, potensi dan energi yang dimiliki murid menjadi kegiatan-kegiatan
yang berguna. Dengan demikian kelas tidak akan berlangsung secara statis, rutin
dan membosankan.
f. Lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar sekolah sangat mempengaruhi. Misalnya
anak yang tinggal di sekitar lingkungan yang masyarakatnya rata rata tidak
bersekolah akan berbeda dengan anak yang tinggal di lingkungan yang kenal
dengan pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengelolaan pembelajaran merupakan
proses untuk mencapai tujuanpembelajaran.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan proses panjangyang dimulai
dengan perencanaan, pengorganisasian dan penilaian.
Ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam
mempreskripsikan strategi penyampaian yaitu media pembelajaran, interaksi
peserta didik dengan media, bentuk belajar mengajar, pengelolaan variable dalam pembelajaran.
Dan
paling tidak ada empat hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu penjadwalan
penggunaan strategi pembelajaran, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa,
pengegelolaan motivasional, kontrol belajar.
B.
Saran
Bagimanapun strategi
pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Sebagai peserta didik dan pendidik harus
dapat bisa memengaplikasikan strategi penyampaian dan strategi pengelolaan
pembelajaran dengan baik agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien sesuai
dengan keinginan bersama serta dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Degeng I Nyoman
Sudana, 1989, Kerangka Perkuliahan dan Bahan Pengajaran, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Komentar
Posting Komentar